IMG_4936-001

Sekelumit Sejarah Rumah Tenun Pusako

Menurut cerita Ibu Hj Sanuar, (82 th), beliau mempunyai dua orang nenek yang dikenal sebagai Inyiak Upiak Gadang dan Inyik Upiak Ketek. Kakek beliau dari garis keturunan ibu ada dua orang pula, yaitu Sutan Diateh dan Haji Abdul Rahman. Keluarga Hj. Sanuar sudah lama bermukim di Jorong Baruh Nagari Pandai Sikek, diperkirakan sudah sejak sekitar 250 tahun yang lalu karena Nenek Rubiah Kayo adalah nenek kesembilan dari Ibu Sanuar, dan beliaulah nenek yang pertama turun dari Tanjuang ke Baruah.

Inyiak Upiak Gadang ini adalah seorang penenun kain songket yang ahli. Ketika masih kanak-kanak, Ibu Sanuar sering mendengar ibu dan ayahnya bercerita tentang kain-kain tenunan nenek Upiak Gadang ini. Pada waktu itu zaman penjajahan Belanda, tetapi kedaan tidak bergolak, relatif damai. Belanda menyokong ekonomi dan pendidikan serta berupaya memajukan kebudayaan rakyat Minangkabau. Pernah Belanda menyelenggarakan suatu Pekan Budaya di Padang Panjang, yang pesertanya termasuk para ahli ukir dan tenun dari Pandai Sikek dan tentu saja juga perajin tenun dari Batipuah, Pitalah, Padang Magek, Sungayang dan tempat-tampat lain di sekitar Padang Panjang. Kain tenunan inyiak Upiak terpilih sebagai salah satu yang terbaik dan dibeli oleh orang Belanda seharga enam rupiah mas.

Tapi apa komentar ayahanda dari Ibu Sanuar waktu itu, “Bodoh bana kito, kain tenun alah tajua sedang kita punya anak gadis yang bisa memakai kain itu!

Ibunda dari Ibu Sanuar bernama Siti Rasanun, dan ayahnya Ulumuddin Dt. Mangkudum, seorang ulama, pengulu dan ahli adat. Beliau menuntut ilmu agama di Cangkiang dan kemudian mengajar dikampungya di Pandai Sikek, mendirikan Madrasah Hidayatul-Islamiyah yang masih berdiri sampai sekarang.

Ayahanda dari Inyiak Upiak ini seorang yang kaya yang berhasil. Beliau beristri beberapa orang, ada di Koto Tinggi, di Pagu-Pagu dan tentu saja di Baruh ini.

Pada suatu hari dia bertanya kepada Upiak Gadang, “Anak den di Pagu-Pagu lah den balikan sawah, anak-anak den lain alah pulo. Akau apo nan ka den balikan?“ Jawab Nyik Upiak, “Suri jo panta sajolah ayah balikan!” sebab Inyiak Upik Gadang ini memang gemar bertenun.

Lalu dibelikanlah oleh kakek itu seperangakat alah tenun berupa suri dan panta untuk anaknya Upik Gadang, suatu pembelian yang setara dengan sawah dan ladang, yang menjadi pusako tinggi turun temurun sampai ke anak cucunya, yaitu keahlian bertenun kain songket. Itulah cikal bakal rumah Tenun Pusako yang dikembangkan kembali oleh Ibu Hj. Sanuar kira-kira pada tahun 1975.

Ibu Sanuar lahir pada tahun 1926. Pada usia remajanya Ibu sudah gemar dan menekuni pekerjaan jahit-menjahit, seperti menyulam, menyuji dan menerawang. Ibu menikah dengan Anwar Djalil St. Sinaro, seorang guru yang mengajar di Sumatra Thawalib Padang Panjang, dan dikaruniai anak empat orang yaitu Amnah, Adyan, Syahdiar dan Rozamon.

Ayahanda Anwar Djalil meninggal pada tahun 1974. Kemudian Ibu Sanuar menikah dengan A. Ramli Dt. Rangkayo Sati, seorang pelukis, mantan Wali Nagari, dan saat itu sedang berusaha keras membangkitkan kembali gairah dan minat anak nagari untuk aktif di bidang kerajinan yang mempunyai sekaligus nilai budaya dan ekonomi. Dengan dukungan pemerintah provinsi Sumatra Barat, beliau mendirikan Proyek Ukiran Kayu dan Bambu di Pandai Sikek, suatu pilot proyek yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi rakyat yang terpuruk semenjak zaman Jepang, agresi Belanda dan PRRI.

Pada mulanya, Bapak Dt. Rangkayo Sati mengajak beberapa orang pemuda ke studio tempat dia melukis di rumah istrinya yang pertama, Ibu Djami’ah. Anak-anak muda ini diajar mengukir kayu dengan mengmbil contoh motif-motif dari rumah gadang di Pandai Sikek. Mereka mengukir lemari, peti atau kotak, dan panel dinding. Hasilnya dijual dan dibawa ke pameran-pameran di Padang Panjang dan Padang sehingga menarik perhatian pemerintah. Akhirnya pemerintah mengangkat usaha kerajinan ukiran ini sebagai basis untuk menghidupkan industri kerajinan di Pandai Sikek.

Proyek Ukiran Kayu dan Bambu Pandai Sikek berkembang pesat. Anak nagari yang tertarik belajar mengukir makin banyak. Peminat ukiran juga meningkat. Pada tahun-tahun 1975-1980 itu banyak kunjungan pejabat pemerintah dari privinsi dan pusat, serta kunjungan duta-duta besar negara asing di Jakarta. Seiring dengan industri kerajinan, Pemerintah juga sedang menggalakkan pariwisata sebagai salah satu sumber devisa non-migas. Karenanya nagari Pandai Sikek dengan ukiran kayunya menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat diunggulkan.

Pada waktu itu tenun songket belum dibangkitkan, dan belum menjadi suatu komoditi yang dapat dijual kepada wisatawan lokal atau mancanegara.

Kerajinan tenun pada tahun-tahun 70-an masih dikerjakan sendiri-sendiri oleh beberapa orang untuk dipakai sendiri. Bahan baku sulit didapat karena kegiatan perdagangan belum lancar, masih ada suasana trauma sesudah perang dan pergolakan yang berkepanjangan. Ada satu atau dua orang yang mengumpulkan kain-kain tenun ini dan menjualnya ke pasar Padang Panjang atau Bukittinggi. Diantaranya ialah Ibu Haji Djalisah di Tanjung. Ibu Sanuar banyak belajar dari beliau tentang bagaimana berdagang kain songket.

Setelah menikah dengan Ibu Sanuar, Bpk. Datuak Rangkayo Sati mengajak istrinya menggelar beberapa helai kain songket di lokasi Proyek Ukiran, untuk diperlihatkan pada tamu-tamu yang berkunjung. Ibu juga bertenun langsung di tempat itu, mendemonstrasikan cara menenun songket Pandai Sikek. Alatnya agak berbeda dari alat tenun di daerah lain karena mempunyai bangku kerja yang disebut ‘panta.’ Banyak tamu yang tertarik akan keindahan tenunan songket itu dan terkagum-kagum melihat proses pembuatannya yang begitu rumit.

Beberapa waktu bejalan demikian, dan ada beberapa songket yang terjual. Akhirnya diputuskan bahwa pemasaran songket di rumah Ibu saja, karena Ibu sudah mulai pula mengumpulkan beberapa anak gadis yang dilatih untuk bertenun. Para tamu yang datang melihat-lihat ukiran di Proyek Ukiran, oleh Bapak dibawa ke rumah kita ini untuk melihat tenun songket serta proses pembuatannya.

Setelah beberapa lama, dirasa perlu untuk membikin papan nama atau merek di pinggir jalan. Baru terpikir apa nama yang baik untuk dipakai? Oleh Ibu Sanuar dipilihlah nama “Pusako” karena keterampilan menenun kain songket adalah pusaka dari nenek beliau sendiri, Inyiak Upik Gadang.

——————-

Pada tahun 1977 dimulailah usaha-usaha mendirikan rumah gedang berukir ini,  dan baru selesai pada sekitar tahun 1981.

Panjang rumah 16,5 meter dan lebarnya 7 meter. Konstruksi rumah dari kayu dengan pondasi batu dan semen. Atap memakai bahan seng yang dilapisi cat. Pada bagian belakang ditambahkan 2 buah kamar 4 x 4 meter. Bagian bawah rumah dimanfaatkan untuk kamar tidur, ruang makan dan dapur. Tapak rumah ini kira-kira 1 meter lebih tinggi daripada dataran halaman rumah yang luasnya kira-kira 50 x 50 meter.

Posisi rumah diatur sedemikian rupa oleh Mamak Damhur St. Rajo Endah sehingga menjadikan suatu landscape yang indah. Pimpinan tukang kayu yang membangun rumah ini adalah Bapak St. Rangkayo nan Gadang. Desain atap gonjong oleh Bapak Gampo.

Ukiran dinding semuanya dikerjakan oleh perajin-perajin ukir dari Pandai Sikek dibawah pimpinan Bapak A. Ramli Dt. Rangkayo Sati. Diantara tukang ukir yang memahatkan karyanya di dinding luar rumah ini adalah Chan Umar, Wardi, Ujang, Adyan, sedangkan ukiran interior dikerjakan oleh Syahdiar Dt. Tunaro dan Izwan.

Semenjak selesai dibangun, rumah ini sudah menjadi tempat tinggal keluarga Ibu Hj. Sanuar dan sekaligus menjadi galeri tempat menggelar hasil karya tenun Pandai Sikek yang terkenal. Rumah ini sudah menarik kunjungan banyak wisatawan dan pemburu foto; gambarnya tersebar dimana-mana sehingga seolah-olah sudah menjadi salah satu mascot pariwsata Sumatra Barat.